Jika berbicara filsafat tidak pernah lepas dari 3 unsur yang dikaji ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga unsur tersebut saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Berfilsafat adalah sarana untuk berolah pikir melalui bahasa yang menuntut kita untuk berfikir intensif dan ekstensif terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada sehingga menjadikan kita lebih kritis.Jika kita belajar hakekat atas hakekat maka kita hanya bisa berusaha untuk menggapai hakekat karena hanya Tuhanlah yang Maha Tahu hakekat atas hakekat. Hakekat dari epistemologi adalah sebuah cara atau metode. Baik buruk hakekatnya dalam berfilsafat merentang atau berdimensi tergantung pada ruang dan waktunya.Metode untuk menggapai baik-buruk sangat relative tergantung siapa yang memandang. Aksiologi tentang ontology adalah baik buruk tentang hakekat misalnya menurut ajaran islam jika kita berdoa di masjid aksiologinya hakikat adalah baik menurut ajaran islam. Aksiologi tentang epistemology adalah etika dan estetikanya suatu metode misalnya saat kita meminta uang kepada orang tua harus ada tata cara yang baik sehingga unsur etika dan estetika terpenuhi. Aksiologi tentang aksiologi adalah baik buruknya tentang baik buruk misalnya pada prosesi pernikahan adat yang setiap symbol/lambang memiliki arti. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ontology adalah yang ada dan yang mungkin ada. Aksiologi adalah sifat yang melekat sedangkan epistemology adalah yang menjadi jembatan antara ontology dengan aksiologi sehingga ketiganya saling terkait.
Jika kita bermimpi dalam mimpi dimimpi teori secara matematika adalah invinite regres dan jika sampai invinite regres orang tidak akan dapat kembali jika ditingkatkan lagi mimpi dapat berwujud menjadi tingkat spiritual agar kita dapat kusuk tidak sembarang metodenya maka harus epistemology diterjemahkan kepada guru-guru spiritual. Padahal secara aksiologi aku tidak dapat menceritakan kekhusyukanku. Batas pikiranku adalah dalam hatiku doa meliputi tindakan yang bersifat material, tulisan yang bersifat formal normal yang berupa pikiran dan spiritual. Sedangkan mitos dapat dikatakan secara sempit dan secara luas. Tidak semua mitos itu dianggap tidak baik misalnya, seorang sultan percaya adanya penunggu pantai selatan sehingga diadakan ritual-ritual tertentu yang bisa diwariskan turun menurun dan membudaya. Berfilsafat berarti berolah pikir agar kita berfikir kritis seperti gagasan Imanuel Kant dalam filsafat Critical. Dua ditambah tiga sama dengan lima akan benar jika netral terhadap ruang dan waktu. Jika sudah memperhatikan waktu, dua tidak sama dengan dua, dua yang pertama tidak sama dengan dua yang kedua. Matematika benar hanya dalam pikiran jika sudah dituangkan dalam tulisan menjadi salah misalnya dua pensil ditambah tiga buku melibatkan ruang yang berbeda.
Jika hati dan pikiran terjaga, melakukan segala hal pastilah diawali dengan doa untuk menjaga kesucian dalam agama islam bahasa yang tepat untuk mengagungkan Tuhan adalah dengan menyebut Ya Allah dengan penuh rasa ikhlas. Perlu kita tahu bahwa sekian riibu kalipun kita menyebut nama Allah belum tentu dapat diterimaNya. Kesadaran meliputi kedalam dan keluar yang berarti berefleksi dan berkhayal yang artinya separuh dunia (berlogika tanpa ada pengalaman). Perbedaan matematika dengan berkhayal adalah jika matematika sistematik dan ada fondamen sedangkan berkhayal tidak ada. Cara mensintesiskan pikiran, hati dan dunia adalah tergantung masing-masing individu. Jika kita berbicara filsafat tidak lepas dari bahasa, karena bahasa adalah dunia filsafat. Oleh karena itu, dapat saya simpulkan dari forum tanya jawab dengan Bapak Marsigit adalah tentang kajian filsafat meliputi ontology,epistemology, dan aksiologi yang tidak lepas dari unsur bahasa yang etis dan estetika sehingga filsafat dapat dimanfaatkan sebagai sarana olah pikir untuk mendapatkan pola pikir kritis terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar