join now if you want more benefit in your profit

Rabu, 13 April 2011

rasionalisme dan empirisme sebagai penalaran ilmiah


Abstraksi

Obyek kajian filsafat adalah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Dalam proses berfikir, penalaran terlibat di dalamnya untuk menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berfikir, perasa, bersikap, dan bertindak.  Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama dengan kata lain relatif tehadap ruang dan waktu. Oleh sebab itu kegiatan proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benarpun berbeda-beda. Kriteria kebenaran tergantung kenbenarannya masing-masing. Tiap penalaran memiliki logikanya sendiri . Penalaran juga merupakan suatu kegiatan berfikir yang menyandarkan pada suatu analisis yang menggunakan logika. Secara umum, berfikir dapat dikategorikan menjadi analitik yang berupa penalaran dan nonanalitik yang berupa intuisi.
 Di samping itu, ada bentuk lain usaha manusia untuk mendapat kebenaran yaitu wahyu/Tuhan. Dalam hal ini wahyu dianggap sebagai kebenaran dengan usaha pasif manusia yang kemudian dipercaya  atau tidak dipercaya berdasarkan keyakinan masing-masing. Dengan wahyu, kita mendapat pengetahuan melalui keyakinan bahwa yang diwahyukan Tuhan adalah benar. Dalam hal intuisi juga bisa sebagai sumber pengetahuan yang benar meskipun tidak ada pola berpikir tertentu.
Agar seseorang dapat melakukan analisi maka diperlukan materi pengetahuan yang bersumber pada kebenaran. Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio/fakta. Mereka yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran menganut paham rasionalisme. Sedangkan mereka yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap melalui pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran menganut paham empirisme.
Misalnya obyek/materi  kajian kita adalah titik dengan subyek kesadaran kita terhadap ruang dan waktu. Sebagai fakta titik bisa dianggap sebagai diriku jika dilihat dari jauh. Titik sebagi potensi yang bersifat rasio dapat menjadi garis, bidang ataupun bangun ruang. Dua pandangan yang berbeda itulah benar menurut taraf kebenaran masing-masing/relatif. Apa yang kita pikiran tentang titik baik sebagi fakta/potensi sebenar-benarnya hanyalah separoh dunia karena separohnya kita tidak bisa menjelaskan hakekat titik yang sesungguhnya. Itulah keterbatasan manusia dalam berfikir agar kita berendah hati terhadap Sang Khalik.
Usaha manusia dalam mengembangkan ilmu dan teknologi adalah dengan penalaran ilmiah dimana penalaran ini menggabungkan penalaran deduktif dan induktif. Penalaran deduktif terkait dengan paham rasionalisme sedangkan penalaran induktif terkait dengan paham empirisme. Dengan penggabungan kedua penalaran itu, maka manusia dapat membangun dunia menggapai logos dan meninggalkan mitos.

Oleh,
Dewi Ervianita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar